Minggu, 30 Agustus 2015

Ayah, aku bukan anak nakal !

Begitu banyak orang tua, guru, bahkan masyarakat yang membicarakan anak yang dikategorikan sebagai anak nakal. Orang tua mulai mencemaskan masa depan anaknya tersebut, sebagai guru, keberadaan anak tersebut juga merupakan tantangan tersendiri bagi dirinya, dan sebagai masyarakat mulai mencemaskan terhadap kenakalan mereka terutama berkenaan dengan akibat perilaku negatif yang ditimbulkan.

Anak dilahirkan seperti kertas putih, tanpa noda dan dosa. Orang tua dan lingkungannya lah yang menentukan seorang anak menjadi apa nantinya. Seperti hadist Rasulullah SAW berikut!
“Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah seorang anak dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah. Lalu kedua orang tuanyalah yang menjadikan ia Yahudi, Nashrani, dan Majusi, sebagaimana dilahirkannya binatang ternak dengan sempurna, apakah padanya terdapat telinga yang terpotong atau kecacatan lainnya?. Kemudian Abu Hurairah membaca, Jika engkau mau hendaklah baca, (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus”

Sekalipun ketika anak baru lahir dalam keadaan fitrah, namun ada beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan anak kedepannya, di antaranya yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Dari hari ke hari, seseorang anak berinteraksi dengan lingkungannya, baik orang tua, keluarga maupun masyarakat. Nilai-nilai hakiki, sentuhan kasih sayang, dan semua perlakuan menyenangkan akan membentuk kepribadiannya menjadi positif, namun apabila dari kecil ia telah mendapatkan perlakukaan yang tidak baik, maka kemungkinan besar anak tersebut akan tumbuh menjadi pribadi yang kurang baik pula.

Menurut undang-undang nomor 3 tahun 1997 tentang pengadilan anak, pasal 1 disebutkan bahwa anak nakal adalah: a) anak yang melakukan tindak pidana; b) melakukan perbuatan yang dinyatakan terlarang bagi anak, baik menurut peraturan perundang-undangan maupun menurut peraturan hukum lain yang hidup dan berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan.

Teringat kisah seorang sahabat, ketika anaknya bermain di dapur dan tanpa sengaja memecahkan gelas kaca. Gelaspun hancur tak berbentuk lagi. Sontak sang ibu berteriak kuat sambil mengucapkan kata nakal yang membuat sang anak ketakutan. Hanya karena gelas saja ibunya rela menyakiti hati sang anak dan ditambah lagi dengan pukulan yang mendarat di kakinya. Sang anak hanya mampu berdiri di pojok ruangan dengan wajah memerah dan ketakutan. Hanya karena sebuah gelas seharga Rp. 10.000 sang ibu rela menyakiti hati sang anak yang mungkin saja dapat ia ingat sampai ia dewasa.

Pertanyaannya sekarang, nakalkah anak tersebut? Apakah pantas seorang anak yang memecahkan gelas tanpa sengaja atau sekadar melompat-lompat di kursi lantas kita sebut sebagai anak nakal?
Menilik kembali pengertian anak nakal menurut undang-undang, apakah anak yang melompat-lompat dikursi dan memecahkan gelas termasuk tindakan pidana? Atau malah termasuk perbuatan yang dilarang? Jika tidak, maka janganlah kita cepat sekali menyimpulkan seorang anak yang bersikap di luar keinginan kita sebagai anak yang nakal.

Anak diciptakan dengan segudang potensi dan keunikan masing-masing. Namun, sadarkah kita, sebagai orang tua atau guru,  ternyata kita punya andil dalam mematikan atau membonsai potensi anak yang merupakan anugerah terbesar bagi dirinya. Kita terlalu cepat memberikan label kepada mereka dengan sebutan anak nakal.

Layakkah tingkah dan polah mereka kita beri predikat sebagai anak nakal? Ataukah ….

Mereka sebenarnya anak yang kreatif dan memiliki kecerdasan yang luar biasa namun kreatifitasnya tak sejalan dengan pemikiran dan keinginan kita. Seorang anak yang ingin bermain di luar rumah dan sang ibu memaksanya untuk tidur. Akhirnya pintu dikunci dan tak lupa menyelot kunci pintu yang ditaruh paling atas pintu. Lalu, kuncinya digantung di atas tembok yang tak dapat terjangkau oleh sang anak. Apa yang terjadi? Sang anak mengangkat kursi dan naik di atasnya, lalu mengambil kunci yang digantung di tembok. Menyadari kunci sudah ada di tangannya sang ibu hanya memperhatikan saja. Dalam hati, mana bisa anak sekecil itu bisa membuka pintu. Anak pun memasukkan kunci ke lubangnya dan mencoba beberapa kali memutar-mutar kunci. “Klik….” bunyi kunci terbuka.

Anak tersebut memiliki kecerdasan yang luar biasa, ia mampu memikirkan cara untuk mengambil kunci yang tergantung ditembok dan membuka pintu. Tapi masalahnya adalah kecerdasan sang anak tidak sejalan dengan keinginan sang ibu yang menginginkan anaknya untuk tidur.
Anak yang memiliki energi “ekstra” namun kita tidak dapat menyalurkannya dengan baik.

Masih ingatkah kita dengan sosok si jenius Albert Einstein? Anak yang bermasalah dari sekolah dasar. Selama sekolah, ia tidak mau mengikuti pelajaran selain matematika dan fisika. saat pelajaran sastra dan yang lainnya, ia memilih keluar dari kelas dan pergi ke danau untuk bereksplorasi dengan alam. Saat di sekolah, Einstein dikenal sebagai anak nakal. Alhamdulillah ia memiliki orang tua yang sangat mendukung keinginannya yang kuat untuk terus belajar matematika dan fisika dan memilih untuk tidak mempelajari ilmu lainnya.
Orang tua dan guru memiliki tanggung jawab penuh untuk menyalurkan energi ekstra sang anak pada posisi yang tepat agar sang anak mampu untuk terus mengembangkan kemampuannya.
Anak yang memiliki ide yang ” tidak biasa” namun kita menganggapnya sebagai anak yang tidak bisa diatur.

Proses belajar mengajar dikelas sering sekali terhambat karena adanya beberapa anak yang tidak mampu mengikuti prosedur yang diharapkan guru. Contohnya saja ketika melakukan praktikum. Sering sekali anak tidak mengikuti arahan dari guru dan melakukan kreasi sendiri. Kita sering sekali menganggap anak nakal hanya karena ia tidak bisa mengikuti arahan kita, padahal di luar dari itu, sang anak sedang mencoba ide kreatifnya yang muncul secara tiba-tiba dan mungkin tidak mendapatkan pengakuan di rumahnya. Seharusnya kita mampu melihat dan membimbing apa yang dikerjakannya dan memberikan apresiasi atas usahanya tersebut.

Kenakalan yang dilakukan anak adakalanya sebagai bentuk aktivitas, ekspresi, dan elaborasi diri dalam proses perubahan menuju kedewasaan. Hal ini dipengaruhi oleh rasa ingin tahu, ingin mencoba, dan ingin bisa seorang anak terhadap suatu persoalan. Bahkan, kenakalan seorang anak bisa saja dipandang sebagai bentuk kreatifitas dini.

Apapun yang dilakukan seorang anak yang dinyatakan terlarang bagi anak dan merugikan bagi orang lain, sesungguhnya posisi anak tetap sebagai korban. Anak adalah korban kurangnya perhatian dan bimbingan orang tua, korban pendidikan yang belum memadai, korban perkembangan teknologi dan media massa dengan aturan yang tidak berpihak kepada kepentingan tumbuh kembang moralitas dan mentalitas anak. Karena apa yang dilakukan anak yang dipandang sebagai bentuk kenakalan itu, juga merupakan bagian dari kewajiban dan tanggung jawab perlindungan orang tua, keluarga, masyarakat, bahkan negara dan pemerintah.

Di sinilah peran besar pendidikan, dimana anak harus didik diarahkan, dibimbing agar kepribadiannya yang negatif hilang, sehingga kepribadian yang positif dapat berkembang sehingga menjadi manusia yang bermanfaat seeperti hadist Rasulullah “sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain”


Sumber:Dakwatuna.com

Sabtu, 29 Agustus 2015

Cara Unik Sayangi & Muliakan Istri


Perkataan yang kasar dari suami tidak menjadikannya jantan, justru itu perlihatkan sikap terlihat kejam tanpa perasaan


Wanita dicipta dari lekuk rusuk agar disayangi, tentu lebih layak dicintai setelah jadi istri

Meluruskannya dengan paksa hanya mematahkannya, kesabaran dan kelembutan adalah kuncinya

Istri diambil dengan amanah serta kalimat yang baik dari walinya, maka jaga dan berlakulah baik padanya sebagaimana Nabi meminta.

Siapa yang tak luluh hatinya bila memiliki suami yang santun lisannya dan sabar dalam menasihati?

Bukan agar istri takut pada suami lalu istri takut berlaku salah, namun agar dia enggan melihat suaminya sedih maka dia berlaku benar

Maka ancaman apalagi pukulan bukanlah jalan, coba kata-kata lembut sejuk penuh pengertian pelan-pelan

Sebetulnya bila istri senantiasa berbuat salah, maka sejatinya suaminya itu bermasalah

Karena tugas suami bukan hanya menafkahi lahir, namun terutama agar dalam kebaikan dia jadi mahir

Membimbing dan mengajari kebaikan adalah tugasnya suami, memimpinnya dalam kebenaran adalah kewajiban suami

Jagan tuduh istrimu tidak sempurna melakukan kewajibannya, mungkin suaminya yang tidak penuh tunaikan haknya?

Atau mungkin kedua-duanya selama ini bermasalah? tanpa iman dan ilmu lantas nekat untuk menikah?

Bagaimanapun suami adalah pemimpin atas istrinya, tak layak pemimpin tidak berlaku baik pada yang dipimpinnya

Pandangilah dia bila memasak bagi anak-anakmu, dengarkan senandungnya saat menidurkan anak-anakmu

Lisan yang baik itu merubah akal dan pikiran, lisan kasar dan amal kasar tanda cacat pikiran

Perbanyak memahami kisah Rasulullah memerlakukan istri-istrinya, niscaya kita temukan hikmah pelajaran kaya pekerti

“Sesungguhnya yang paling baik diantara laki-laki adalah yang paling baik kepada istri-istrinya” (HR Ahmad)

Kenyataannya jarang kita temukan suami dzalim pada istrinya, lantas Allah berikan kemudahan hidupnya di dunia.

Sayangi dan muliakan istrimu , bahagia dan berharga hidupmu !

Sumber:
Felix Siau -  Islamedia

Jumat, 28 Agustus 2015

Cara Mudah Selalu Bersyukur


Alhamdulillah. Segala puji hanya milik Allah SWT. yang senantiasa melimpahkan berbagai karunia kepada seluruh makhluk-Nya. Segala nikmat Allah tiada pernah bisa terhitung sehebat apapun manusia berusaha untuk menghitungnya. Sholawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada baginda nabi Muhammad SAW.


Saudaraku, semoga kita menjadi ahli syukur. Mengapa? Karena bersyukur adalah ciri dari orang yang beriman. Sedangkan orang yang beriman sebagaimana pesan Rasulullah Saw., adalah orang yang ajaib karena dia orang yang tiada pernah rugi di dalam hidupnya.

Rasulullah SAW. bersabda, “Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Segala keadaan yang dialaminya sangat menakjubkan. Setiap takdir yang ditetapkan Allah bagi dirinya merupakan kebaikan. Apabila ia mengalami kebaikan, dia bersyukur, dan hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan, apabila ia tertimpa keburukan, maka dia bersabar dan hal itu merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

Seperti perumpamaan satu biji benih yang tertimpa hujan, kemudian ia tumbuh dan semakin besar. Akarnya menghujam ke tanah, batangnya berdiri kokoh, rantingnya menjulang dan dedaunannya rimbun rindang menjadi tempat untuk berteduh berbagai makhluk. Atau, seperti anak sapi yang makan rumput, ia semakin besar dan menghasilkan susu yang bermanfaat bagi lebih banyak makhluk.

Maasyaa Allah! Demikianlah gambaran orang yang bersyukur itu. Allah SWT. akan melipatgandakan karunia baginya hingga pelipatgandaan yang tiada pernah terperkirakan sebelumnya.

Jadi, jangan takut tidak kebagian rezeki Allah, namun takutlah jika kita tidak bisa mensyukuri nikmat Allah. Syukur itu seperti tali yang mengikat nikmat yang sudah ada dan menarik berbagai nikmat lainnya yang belum ada. Allah SWT. berfirman, “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrohim [14] : 7)

Oleh karena itu saudaraku, tak perlu sibuk memikirkan nikmat yang belum ada. Karena nikmat yang belum ada itu sudah janji Allah, akan Dia berikan kepada kita jikalau kita bersyukur kepada-Nya. Maka, sibuklah mensyukuri nikmat-Nya. Seperti ada lemari yang terkunci dan di dalamnya ada makanan yang enak yang kita inginkan, lantas apa yang akan kita sibukkan? Apakah memikirkan makanan itu atau memikirkan untuk mencari kuncinya? Tentu kita akan sibuk mencari kuncinya. Nah, syukur adalah kunci.

Allah mustahil inkar janji. Allah pasti memenuhi janji-Nya. Jikalau kita bersyukur, Allah akan lipatgandakan nikmat-Nya untuk kita. Semoga kita tergolong hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur.

Semoga Bermanfaat

sumber: 
smstauhiid.com

Kamis, 27 Agustus 2015

3 Kata Rahasia Menambah Sakinah

Memiliki rumah tangga yang sakinah mawadah warohmah (SAMARA) merupakan dambaan bagi siapa saja, namun beberapa pasangan seringkali merasa kesulitan bagaimana menerjemahkanya dalam kehidupan keseharianya.



Ketika berinteraksi dengan pasangan kita, biasakan menggunakan 3 kata ini, yakni Minta Tolong, Minta Maaf dan Terima kasih.

1. Minta Tolong
Biasakan menggunakan kata “minta tolong” ketika sang suami menyuruh istri atau sebaliknya seorang istri menyuruh suami untuk mengerjakan suatu pekerjaan. Meski sederhana, kata “minta tolong” akan berpengaruh besar terhadap komunikasi suami istri.

Kata “minta tolong” memperlihatkan bahwa ada penghargaan yang sangat tinggi terhadap pasangan, sehingga rasa direndahkan atau sebagai objek suruhan dengan serta merta akan sirna. Yang muncul adalah rasa saling mengisi, karena suami istri adalah partner yang sejajar.

2. Terima kasih
Biasakan memberikan kata “terima kasih” kepada pasangan kita apabila pasangan kita telah melakukan sesuatu yang kita anggap sangat bermanfaat bagi kita. Kata “terima kasih” juga sangat cocok digunakan sebagai satu kesatuan kata “minta tolong” kepada pasangan kita.

Jangan pernah lelah ucapkanlah kata “terima kasih” untuk berbagai hal terhadap pasangan kita. Misal : “terima kasih ya Sayang, sudah membukakan pintu” ucap sang Suami, kemudian dibalas oleh sang Istri “terima kasih ya sayang, sudah membelikan pesenanku”.

3. Minta Maaf
Biasakan saling berebut menggunakan kata “minta maaf” apabila terjadi perselisihan dengan pasangan yang mengakibatkan terjadinya pertengkaran.

Kata “minta maaf” tidak akan pernah merendahkan si pengucapnya, sebaliknya akan menjadi penyejuk ketika hubungan dengan pasangan kita agak memanas.

Jangan biarkan apabila ada masalah dalam keluarga dibiarkan berlarut-larut tanpa solusi, sehingga mengakibatkan pertengkaran dan berujung sikap saling diam mendiamkan.

Apabila ketiga kata tersebut menghiasi hari-hari berumah tangga, maka yakinlah akan semakin terlahir sebuah rumah tangga yang sakinah, mawadah dan warohmah. Aamiin.

Sumber:
Islamedia

Rabu, 26 Agustus 2015

5 Resep Rahasia menjadi Wonderful Family

Al Quran adalah petunjuk bagi seluruh Ummat manusia, yang mengatur seluruh peradaban. Menjadi pencerah bagi seluruh mahluk dan didalamnya terdapat segala macam pelajaran, hukum, dan aturan-aturan yang akan membawa manusia ke derajat yang mulia. Tak hanya mengatur masalah—masalah ibadah namun juga mengatur bagaiamana membangun peradaban dari unit terkecil yaitu keluarga.

Lalu, seperti apakahresep yang di berikan Allah untuk membentuk keluarga bahagia menurut Al Quran..?

Ada 5 resep rahasia membangun Wonderful Family berdasarkan Surat Ar Ruum: 21. Ayat ini identik dengan pernikahan dan segala pernak perniknya.

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir." (QS. Ar-Ruum : 21).


Berikut 5 resep yang harus dilakukan untuk mencapai rasa tenteram, kasih dan sayang dalam rumah tangga yang diajarkan Islam:


1. Sikap yang santun dan bijak (Mu'asyarah bil Ma'ruf)

Merawat cinta kasih dalam keluarga ibaratnya seperti merawat tanaman, maka pernikahan dan cinta kasih harus juga dirawat agar tumbuh subur dan indah, diantaranya dengan mu'asyarah bil ma'ruf. Rasulullah saw menyatakan bahwa : "Sebaik-baik orang diantara kamu adalah orang yang paling baik terhadap isterinya, dan aku (Rasulullah) adalah orang yang paling baik terhadap isteriku." (HR.Thabrani & Tirmidzi)


2. Saling mengingatkan dalam kebaikan

Di antara bentuk ketakwaan suami istri dalam mempererat serta mengokohkan rumah tangga adalah dengan saling nasehat menasehati untuk menjalankan sunnah Nabi. Lihat dan renungkanlah betapa indah dan harmonisnya rumah tangga yang dibangun di atas Al-Qur'an dan sunnah serta metode para sahabat yang telah digambarkan oleh Nabi dalam haditsnya, "Allah merahmati seorang suami yang bangun pada malam hari untuk melaksanakan shalat (malam/tahajjud) lalu dia juga membangunkan istrinya hingga shalat. Jika istrinya enggan untuk bangun dia percikan air kewajahnya. Dan Allah merahmati seorang istri yang bangun dimalam hari untuk melaksanakan shalat (malam/tahajjud) lalu dia membangunkan suaminya hingga shalat. Jika suaminya enggan untuk bangun dia percikan air kewajahnya." HR. Ahmad, Nasai, dan Ibnu Majah dan derajatnya hasan shohih).


3. Lebih mengutamakan untuk melaksanakan kewajiban, daripada menuntut hak.

Dalam membangun rumah tangga, suami dan istri memiliki hak dan kewajiban yang saling sinergi satu sama lain. Untuk menghadirkan ketentraman, hendaknya setiap individu lebih mengedepankan kewajiban daripada hak. Hal ini akan menumbuhkan sikap saling pengertian dan rasa tanggung jawab. Sebaliknya, tuntutan2 yang muncul dalam kehidupan rumahtangga dapat menyulut api perpecahan diantara pasangan suami-istri.


4. Saling menutupi kekurangan pasangannya

Setiap suami pasti memiliki kekurangan, begitu juga dengan sang istri. Kekurangan2 tsb sangat mungkin baru diketahui oleh pasangan masing2 setelah menikah. Dengan saling menutupi kekurangan diri masing2, harmonisasi dalam rumahtangga akan terjaga. Tidak seperti seleb


yang saling mengungkapkan aib pasangannya ke pihak lain, yang kemudian berakhir dengan perceraian. Prinsip saling menutupi ini didasari oleh Surat Al Baqarah ayat 187, "..mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka..". Fungsi pakaian adalah menutup aurat, sehingga dapat dipahami bahwa suami-istri hendaknya saling menutupi kekurangannya satu sama lain.

5. Saling tolong menolong

Tolong menolong. Itulah kata kunci pasangan samara dalam mengelola keluarga. Suami-istri itu akan berbagi peran dan tanggung jawab dalam mengelola keluarga mereka. Sungguh indah gambaran pasangan suami-istri yang seperti ini. Suaminya penuh rasa tanggung jawab, istrinya mampu menjaga kehormatan diri dan pandai menempatkan diri. (mys)

Sumber; Islamedia

Selasa, 25 Agustus 2015

Step by Step – Mendidik Anak

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” (QS. an-Nisaa’ : 9)

Step by Step – Mendidik Anak Ala Rasulullah

Sahabat, setiap orangtua mendambakan anak yang shaleh, cerdas, dan membanggakan, akan tetapi keinginan dan upaya yang dilakukan sering kali belum selaras.

Kita sebagai orangtua lebih banyak mengandalkan guru maupun tempat les untuk mencerdaskan anak-anak kita, padahal kunci cerdasnya anak, justru ada di rumah, ada pada kedua orangtua!

Orangtua perlu memahami bagaimana tahapan mendidik anak sesuai dengan usianya. Berikut ini adalah tahapan cara mendidik anak ala Rasulullah yang insya Allah dapat mencerdaskan anak-anak kita, baik secara intelektual maupun emosional.

1.  Mendidik anak usia 0 hingga 6 tahun: Perlakukan anak sebagai raja

Anak usia 0-6 tahun merupakan usia emas atau Golden Age.  Anak pada usia ini akan mengalami masa tumbuh kembang yang sangat cepat.  Percepatan tumbuh kembang ini bisa dirangsang dengan mainan.  Mainan akan sangat membantu agar anak menjadi anak yang cerdas.
Sedangkan Rasulullah sendiri menganjurkan kepada kita untuk senantiasa berlemah lembut terhadap anak kita yang masih berusia dari 0 hingga 6 tahun.  Memanjakan, memberikan kasih sayang, merawat dengan baik dan membangun kedekatan dengan anak merupakan pola mendidik yang baik.

Zona merah: Jangan marah-marah! Jangan banyak larangan, jangan rusak jaringan otak anak, pahami bahwa anak masih kecil dan yang berkembang adalah otak kanannya.

Jadikan anak merasa aman, merasa dilindungi dan nyaman bersama orangtua.  Ketika anak nakal maka janganlah membiasakan untuk dipukul supaya anak mau menurut.  Memukul ataupun memarahi anak pada usia ini bukanlah cara yang tepat.  Berikanlah kesempatan pada anak agar merasakan kebahagiaan yang berkualitas dimasa kecil.

2.  Mendidik anak usia 7 hingga 14 tahun: Perlakukan anak sebagai tawanan perang/ pembantu

“Perintahkan anak-anakmu untuk shalat saat mereka telah berusia 7 tahun, dan pukullah mereka jika meninggalkannya ketika mereka berusia 10 tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka.”     (HR. Abu Dawud)

Perkenalkanlah anak dengan tanggung jawab dan kedisiplinan pada usia ini.  Kita bisa melatihnya mulai dari memisahkan tempat tidurnya dan mendirikan shalat 5 waktu.

Pukullah anak ketika anak tidak mau mendirikan shalat.  Tapi bukan pukulan yang menyakitkan atau pukulan di kepalanya.  Atau kita bisa membuat sanksi-sanksi ketika anak melanggar, namun sanksi yang diberikan usahakan sesuai dengan kesepakatan antara anak dan orangtua.

Zona kuning: Zona hati-hati dan waspada. Latih anak mandiri mengurus dirinya sendiri, missal cuci piring, cuci baju, menyetrika. Pelajaran mandiri ini akan bermanfaat banyak di masa depannya, untuk kecerdasan emosionalnya.

3.  Mendidik anak usia 15 hingga 21 tahun: Perlakukan anak seperti sahabat

Anak pada usia ini adalah usia dimana anak akan cenderung memberontak.  Oleh karena itu dibutuhkan pendekatan yang baik kepada anak.  Fungsinya adalah agar kita bisa meluruskan anak ketika anak berbuat kesalahan, karena kita dekat dengan anak.

Zona hijau: sudah boleh jalan. Anak sudah bisa dilepas mandiri dan menjadi duta keluarga.

Timbulkan rasa nyaman pada anak bahwa kita orangtua namun bisa bersikap seperti sahabat setia.  Sahabat setia yang siap mendengar segala cerita dan curahan hati anak.
Masa ini adalah masa pubertas untuk anak-anak.

Jangan sampai ketika anak-anak punya masalah namun mereka cari solusi dan cari curhat ke tempat orang lain.  Didiklah anak dengan membangun persahabatan meskipun kita adalah orangtuanya, agar anak tidak merasa bahwa kita adalah orang ketiga yang tidak boleh tahu tentang permasalahan dirinya.

Para orangtua juga dilarang untuk memarahi dan menghardik anak di hadapan adik-adiknya ataupun di depan kakak-kakaknya.  Maksudnya supaya harga dirinya tidak jatuh sehingga anak tidak merasa rendah diri. Jalinlah pendekatan yang baik kepada anak.

Semoga bermanfaat.
Sumber:Ummi

Senin, 24 Agustus 2015

5 Cara menjadi "WONDERFUL DAD"

Sebagai pengemban tanggung jawab nafkah keluarga, seorang ayah tentunya memiliki kuantitas waktu yang tak seberapa untuk hadir di tengah buah hatinya. Meningkatkan kualitas kebersamaan dengan anggota keluarga menjadi sebuah kemestian bila sang ayah ingin punya pengaruh pada anak-anaknya. Memberi kualitas waktu yang sedikit ini harus punya trik sendiri yang sang ayah dituntut untuk kreatif memanfaatkan waktu sebaik mungkin.

Saat ayah sedang di rumah dan punya waktu luang bersama anak-anaknya, ada beberapa hal yang bisa diperbuat oleh seorang ayah agar kebersamaannya membekas.

1. Mengantar/Menjemput Anak ke Sekolah atau TPA.

Sebuah kisah nyata, seorang ayah yang bekerja di luar negeri (India) suatu saat diberi kesempatan cuti pulang ke tanah air. Kesempatan cuti itu dimanfaatkan untuk mengantar dan menjemput anaknya ke sekolah. Esoknya, si anak bertanya apakah sang ayah akan kembali ke India. Dengan bijak, sang ayah menjawab bahwa kepergiannya ke India untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tapi kemudian si anak memberi ancaman yang mengejutkan, ia tidak mau kembali ke sekolah kalau tidak mau diantar oleh ayahnya. Terenyuh dengan ancaman seperti itu, akhirnya sang ayah menelpon perusahaan tempat ia bekerja di India dan ia resign saat itu juga.

Cerita di atas bukan untuk menakut-nakuti pembaca yang bekerja di luar negeri, atau bekerja kantoran dan tak sempat mengantar anak ke sekolah. Tapi kita bisa berkaca dari kisah ini bahwa kebersamaan dengan sang ayah ke sekolah sangat berkesan di hati si anak. Aktifitas itu bisa memberikan kualitas yang sangat tinggi dalam kuantitas waktu yang tak seberapa.

Ayah yang merasa dibutuhkan oleh anak untuk mengantarnya ke sekolah seharusnya berbangga, karena berarti si anak tak malu untuk memamerkan sosok ayahnya kepada teman-temannya.

2. Menemani Anak Belajar/Mengulang Pelajaran.

Kita semua pernah kecil dan tahu bahwa belajar itu pekerjaan yang membosankan. Saat kita harus menghafal sebuah teks, kita terbebani. Menghadapi soal matematika, kita terbebani. Berbeda dengan aktifitas bermain yang tak ada beban dan selalu having fun.

Bila anak terlihat riang saat ayahnya pulang dari kantor, itu menandakan si anak merindukan ayahnya dalam detik-detik ia menjalani hari. Kerinduan itu bisa dimanfaatkan oleh sang ayah untuk membujuk si anak untuk mengulang pelajaran di sekolah atau TPA-nya. Kebersamaan dengan sang ayah bisa menjadi penyemangat si anak. Apalagi bila sang ayah merupakan sosok yang tak pelit melempar pujian. Tentu anak akan lebih semangat lagi.

3. Menemaninya Bermain dan Rekreasi

Aktifitas ini mungkin yang paling sangat berkesan bagi seorang anak, bila ayahnya berada di dekatnya menemani. Dalam keceriaan bermain dan jalan-jalan, si anak mendapati ayahnya yang sering dirindukannya di siang hari berada di dekatnya. Tak perlu penjelasan lebih dalam untuk membuktikan bahwa aktifitas ini yang paling direkomendasikan bila bersama anak.

Merujuk pada hadits yang berbunyi: “Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang dan memanah”, maka tempat rekreasi dan bermain yang memenuhi anjuran Rasulullah adalah kolam renang dan kebun binatang yang di situ kita bisa menyewa kuda. Tapi setidaknya tempat outbound sudah mencukupi untuk mengajarkan anak ketangkasan.

4. Menemaninya Menonton Televisi

Dari positif dan negatifnya keberadaan televisi, benda ini tetap dibutuhkan untuk hadir di tengah rumah. Didikan yang teramat ketat, tanpa memperbolehkan anak menonton televisi, akan menjadi bumerang saat anak mendapat kesempatan kebebasan menonton televisi di rumah temannya. Dari pengalaman dari orang yang pernah dididik dengan ketat seperti itu, ia akan betah berlama-lama di rumah temannya hanya untuk menonton televisi.

Yang moderat mungkin kita perbolehkan anak menonton televisi dengan aturan dan dengan ditemani orang tua. Ini untuk mendidik anak juga, agar ia bisa membedakan mana yang baik dan buruk dari dunia luar. Orang tua bisa meng-indoktrinasi anak dengan kebaikan saat anak menonton televisi.

5. Memandikannya

Punya anak balita? Mungkin balita kita sehari-hari dimandikan oleh ibunya atau pengasuhnya. Tidak ada salahnya bila kita mengambil waktu untuk "bermain air" dengan anak. Jangan terlalu serius memandikan anak. Kita perlu mencari cara lain yang tak biasa - seperti cara ibunya memandikan sehari-hari - untuk membuat keceriaan di kamar mandi.


Ada banyak cara lain yang mengasyikkan untuk memberikan kualitas yang hebat pada kuantitas pertemuan yang tak seberapa antara ayah dan anak. Yang diperlukan adalah kreatifitas dan kemauan sang ayah untuk menyingkirkan keinginannya berleha-leha di rumah. Karena menemani anak membutuhkan pengorbanan. Saat ayah letih pulang dari kantor, kadang anak meminta main kuda-kudaan. Ini memerlukan pengorbanan luar biasa. Tapi dengan jalan ini kualitas kebersamaan itu menjadi mantap.

Sumber: Islamedia

Minggu, 23 Agustus 2015

Ayah yang selalu dirindukan

Apakah anda selalu dirindukan kehadirannya?

(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: "Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku. Ayahnya berkata: "Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. (Yusuf : 4-5)

Lihatlah dialog yang terjadi antara ayah dan anak dalam ayat di atas. Sungguh adalah dialog yang indah. Dialog yang menggambarkan begitu dekatnya hubungan antara anak dan ayah. Sesuatu yang sekarang begitu jarang kita lihat. Ayah dan anak seringkali merasa asing. Bertegur sapa sebatas perlu. Layaknya orang yang sedang menunggu antrean busway. Isinya pun seputar PR anak, makan dan biaya kuliah.  Fisik mereka serumah namun jiwa mereka terpisah lain dunia. Yusuf, dalam ayat tersebut diceritakan mendatangi ayahnya. Bertanya tentang sesuatu yang sangat pribadi. Yakni tentang mimpi yang dialaminya. Sebuah hal yang menunjukkan ia hanya akan tanyakan sesuatu kepada orang yang paling ia percaya. Dan ayahnya pun memahami arti mimpi tersebut bahwa itu adalah kabar gembira dari Allah untuknya. Dan demi menjaga hal yang tidak diinginkan, maka ia pun menasehati anaknya agar berhati-hati dengan mimpinya terutama tak menceritakan kepada saudaranya.

Yang menarik dari dialog di atas adalah panggilan Yusuf kepada ayahnya menggunakan sebutan  يا أبت, seolah-olah orang yang dipanggil, yakni Ya’qub ayahnya, berada di tempat yang jauh, padahal dia ada di depannya. Orang yang ada di depannya dibuat seakan-akan berada di tempat yang jauh menandakan ia dinantikan kehadirannya, karena yang dimaksudkan adalah menghadirkan hatinya dan perhatian terhadap sesuatu yang akan diceritakan (Hiwarul Aba’ Ma’al Abna fiil Qur’anil Kariim wa Tathbiqotuhut Tarbawiyah, Sarah Binti Halil Ad Dakhili).

Dari sinilah kita bisa mengambil dua pelajaran penting dalam konteks pengasuhan saat ini :
1. Adakah AYAH menjadi figur yang dirindukan oleh anaknya
2. Sejauh mana anak menaruh kepercayaan terhadap sang ayah

Ayah yang dirindukan. Ini menunjukkan ikatan hati yang terjalin sedemikian erat. Kesibukan ayah dalam mencari nafkah tak menghalanginya untuk menjalin ikatan batin kepada anaknya. Sehingga tiap pertemuan dirasa begitu berharga oleh anak. Kadang hanya singkat namun memberi makna. Ada kesan mendalam yang digoreskan dalam batin anak. Tentu hal ini terjadi jika ayah betul-betul menjalankan fungsinya sebagai pengasuh sekaligus pengasih. Ketidakmampuan ayah menghadirkan kerinduan dalam jiwa anak berakibat kepada beralihnya perhatian anak kepada sosok-sosok lain diluar sana. Televisi dan segala perangkat digital menjadi rujukan mereka sekaligus pengisi kekosongan jiwa anak akan hadirnya ayah. Jiwa mereka telah terikat oleh pahlawan-pahlawan rekayasa buatan media. Dampaknya, kepulangan ayah ke rumah tak lagi dianggap istimewa. Ucapan salam ayah di depan teras rumah tak menggetarkan jiwa mereka untuk menyambut. Kalah dengan teriakan tukang bakso yang kadang membuat sebagian anak histeris menyambutnya.

Ketidakrinduan anak kepada ayah ini menjadikan fungsi ayah terbatas hanya kepada dua hal :
1. Memberi nafkah
2. Memberi izin untuk menikah

Tanpa sadar, anak menganggap ayah sebatas mesin ATM. Didatangi saat kehabisan uang belanja. Kehadiran ayah dirasa ada dan tiada. Bahkan banyak yang merasa sudah yatim sebelum waktunya meski sang ayah masih ada di sekitarnya. Wal’iyadzubillah… Jika ini dibiarkan terjadi, maka hilanglah rasa kepercayaan anak kepada sang ayah. Dan ini ditandai dengan banyaknya ayah yang tak tahu kapan pertama kali anak lelakinya mimpi basah. Kenapa demikian? Sebab anak merasa sungkan untuk bertanya akan masalah seksualitas yang dialaminya. Bayangkan! Ayah menuntut anaknya untuk sholat subuh ke mesjid. Sementara anaknya baru saja mengalami mimpi basah dan tak tahu harus mandi junub. Sholat si anak tidak sah.

Tentu ayah lah sebagai penanggung jawabnya. Menjadi ayah yang dirindukan memang tak mudah. Layaknya menanam benih hingga menjadi tanaman padi yang bernas, butuh ketekunan, keseriusan dan kesabaran. Namun kelak ayah akan memanen hasilnya. Yakni berupa kepercayaan dari anak. Saat anak betah berlama-lama bercerita di hadapan ayah akan kegiatan sehari-harinya. Menjadikan ayah rujukan informasi pertama. Bahkan saat anak hadapi suatu masalah, ia tahu kepada siapa ia mencari solusi. Tak lain adalah ayahnya. Bagi anak yang telah timbul rasa kepercayaan kepada ayahnya, sang ayah telah menjelma menjadi ‘super hero’ pertamanya. Memberi inspirasi di sepanjang perjalanan usia anak. Bahkan hingga ia berusia dewasa dan menua. Tidakkah ini menjadi hal yang begitu menggembirakan bagi sang ayah? Saat petuah dan nasehat ayah senantiasa didengarkan dan dipatuhi anak. Bahkan saat ayah meninggal dunia, tak henti-hentinya anak mendoakannya seraya memohon ampun.

Sumber:
Bendri Jaisyurrahman
twitter : @ajobendri

Sabtu, 22 Agustus 2015

Aku rindu padamu, sungguh !

Momen atau kejadian apakah yang membuatmu rindu kepada AYAH ?

Bersyukurlah ketika kedua orang tua kita masih membersamai kita, do'a kan ayah ibu kita apabila mereka sudah mendahului kita, agar kita menjadi anak yang selalu berbakti kepada kedua orang tua kita, menjadi anak yang akan memberatkan timbangan kebaikan untuk ayah & ibu kita kelak.







Berikut ini adalah beberapa momen dimana Ayah sangat dirindukan sosoknya.

1. Seorang Ayah di negeri Cina setiap hari mengendong anaknya yang menderita lumpuh, sang ayah menggendong anaknya sejauh 18 Km untuk sampai ke sekolah anaknya. Perbuatan yang luar biasa bukan? 

Mungkin sebagian kita pernah diantar sekolah dengan dibonceng dengan sepeda atau dibonceng dengan motor, pasti hal itu sangat dirindukan bila si anak ketiak dia sudah besar kelak.

Ayah yang luar biasa, melebihi cerita-cerita dalam komik & film-film. 

















2. Lain halnya dengan Ayah dan anak dibawah ini, mereka berdua kompak berlatih bersama, bahkan mengikuti lomba bersama seperti marathon, berenang, dan banyak hal yang diperbuat sang ayah kepada anaknya yang mempunyai disabilitas, kerjasama yang luar biasa bukan ?



3. Penutup mata yang Lucu, ada anak yang ditutup matanya setelah mempunyai gangguan pada mata sebelah kirinya, sang ayah sangat kreatif membuatkan penutup mata atau sejenis perban dengan gambar yang lucu.


dibawah ini juga, sang ayah membuat sendiri perban penutup mata anaknya, terlihat hubungan emosi yang luar biasa bukan?



Demikianlah 3 foto yang mudah-mudahan dapat menginspirasi kita sebagai ayah atau kita sebagai anak, masih banyak lagi hal-hal yang luar biasa yang dapat dilakukan oleh ayah selain tiga hal tersebut diatas.

Sumber : brilio.net

Senin, 10 Agustus 2015

Waktu kita semakin pendek, sadarilah !

Ayah adalah Aku
Call me, DAD !
Wahai Ayah,

Bicara mengenai waktu kita pasti sepakat dan setuju 101 % kalau waktu itu takkan pernah bergerak mundur kebelakang atau takkan pernah berputar terbalik, kepastian akan bertambahnya umur kita adalah sebuah hal yang pasti dan takkan pernah kembali.

Wahai Bunda,

Bicara seberapa panjangkah umur kita, umur yang akan mendampingi masa-masa bahagia bercengkramana dengan anak-anak kita, pasti kita merasakan semakin pendek ya?

Ya...Waktu kita semakin pendek.

Anak-anak yang mulai beranjak dewasa, kita bersamai mereka ketika menangis, bermain dan terlelapnya, semuanya begitu singkat bukan?
Apakah kita akan terus menyanyikan lagu burung kakak tua, naik-naik naik kepuncak gunung atau banyak lagi lagu-lagu yang kita senandungkan sewaktgu mereka akan tidur atau sekedar menyenangkan hati anak kita.

Semakin lama anak-anak kita akan semakin dewasa, mereka akan menikah dan mempunyai keluarga lalu mandiri, sebegitu pendeknya waktu itu. Kemarin baru bermain lompat tali, baru saja meniupkan balon, bermain petak umpet, mengatakan hal yang terindah saat anak kita menggambar tembok rumah dengan begitu riangnya, walau tak jelas maksud dan tema dari coretan tangan-tangan mungil tersebut, yang pasti semakin bertambah umurnya akan semakin hilang kenangan itu.

Lihatlah bagaimana zaman berganti dengan tak terkendali, menggantikan yang tua dengan yang muda, lihatlah saat dulu merupakan sebuah kebahagiaan hanya dengan mendengarkan sebuah sandiwara radio, tapai anak-anak sekarang dengan begitu mudahnya berinteraksi dengan informasi yang dapat diakses 24 jam, beda zzaman beda gaya dan beda pendekatannya. Sungguh kehidupan kita dan anak-anak yang kita cintai seperti sebuah roda pedati yang diperjalankan.

Inilah pertanyaan yang perlu kita ulang-ulang agar perbaikan terus terjadi, karena perubahan tidak selalu membawa perbaikan, karena perubahan tak mengenal kata henti juga seperti halnya waktu yang terus berputar.

  1. Kebaikan apa yang telah tersemai dan terpatri erat didalam relung jiwa anak kita.
  2. Kebaikan dan akhlaq budi pekerti seperti apakah yang sudah anak kita miliki serta sudah kita berikan teladan yang akan memberikan manfaat dihari kemudian.
  3. Sudah seberapa kuat karakter anak-anak kita, seberapa besar cita-citanya dan selalukah anak kita rindu akan mengerjakan kebaikan-kebaikan yang akan membawa kepada keuntungan dunia dan hari nanti.
Duhai Ayah & Bunda, waktu kita sangat terbatas, waktu kita sangat pendek tak terkira, tataplah erat-pekat wajah anak-anak kita, lantunkan dan senandungkan do'a-do'a pewaris kehidupan agar relung jiwa mereka menjadi hidup dan selalu tumbuh berkembang.

Mari kita sapa selalu hati-hati mereka, hati anak-anak yang penuh kerinduan...mari kita ceritakan kepadanya bahwa ditengah waktu yang sangat pendek ini kita tetap melakukan perbaikan dalam berjuang mendidik & membesarkan mereka.

Semoga do'a mu takkan pernah putus-putus untuk kami ya nak, ayah bunda mu.
Ayah harus berubah & bunda pun menjadi pendukung setia
  

Senin, 03 Agustus 2015

Menjadi Ayah yang berubah !

Zaman dulu, kalau kita bicara soal pengasuhan anak, maka yang banyak disorot adalah ibu. Sekarang di zaman modern, para ayah juga terlibat dalam pengasuhan anak, karena tahu betul kalau anak butuh peran ibu dan ayah. “Pengalaman saya 25 tahun jadi psikolog membuktikan, anak-anak yang diasuh oleh ibu akan tumbuh bagus. Sementara bila ibu dan ayah sama-sama terlibat dalam pengasuhan anak sebagai partner, maka anaknya akan tumbuh menjadi outstanding atau luar biasa,” ujar Ratih Ibrahim.

Lewat ayah, anak lelaki akan belajar menjadi laki-laki sejati itu seperti apa. Lewat ayah, anak perempuan akan belajar bagaimana seharusnya diperlakukan oleh laki-laki, termasuk cara ayah memperlakukan ibunya.“Jadi, ayah yang betul-betul terlibat dalam pengasuhan anak, akan mengisi jiwa anak menjadi komplit,” tandas Ratih.

Bagaimana dengan pendapat anak laki-laki lebih dekat dengan ibu, sementara anak perempuan lebih dekat dengan ayahnya, benarkah? “Bisa benar, bisa tidak,” jawab Ratih. Pendapat tersebut ada sejak jaman Sigmund Freud di abad 18, yang mengatakan di masa remaja anak laki-laki akan memuja ibunya dan ayah sebagai saingan (Oedipus Complex). Dengan berjalannya waktu, nantinya anak laki-laki akan beridenditifikasi dengan ayah dan suka pada lawan jenis selain ibu. Sementara anak perempuan, ketika remaja mulai sadar kalau dia tak punya penis dan menyalahkan ibunya. Lalu mulai suka pada ayah dan cemburu pada ibu (Electra Complex).

“Namun dari fakta yang ada, yang saya hadapi sehari-hari sebagai psikolog, ternyata teoriattachmentmembuktikan bahwa anak-anak tidak memilih peran jenis kelamin,” sambung Ratih. Anak akan memilih caregiver-nya; memilih orang yang paling membuat dirinya merasa aman dan nyaman. Biasanya pada mereka yang memberi makan, yaitu ibu yang menyusui. Namun, para ayah masa kini juga sangat terlibat sejak IMD, ikut memeluk, mengajak ngobrol, memberi dukungan, sehingga anak juga merasa aman dan nyaman.

“Jadi, kalau ibu dan ayah sama-sama bisa memberi rasa aman dan nyaman pada anak, maka jiwa si anak akan penuh, komplit! Hasil dari attachment ini baru akan tampak jelas di usia perkembangan anak yang lebih besar, ” tandas Ratih lagi.Ratih mengungkapkan, sumber beragam masalah anak yang datang ke ruang praktiknya –mulai gagal tumbuh kembang, gangguan emosi, gangguan perilaku hingga gangguan kepribadian– adalah pada keluarga, yaitu pada relasi orang tua yang tidak harmonis.

Lalu apa yang dapat dilakukan oleh para ayah pada anak dan keluarganya?

Be there.Sesibuk apa pun, luangkan waktu untuk anak, karena waktu tak pernah jalan mundur. Pada saat meluangkan waktu untuk anak, ayah benar-benar hadir untuk anak dan pasangan. Singkirkan semua hal yangberpotensi mengganggu kulitas kebersamaandengan keluarga, termasukgadget.
Be happy. Pada saat bertemu dengan anak, kapan pun, bergembiralah dan ikhlas. Karena, gembira itu membuat jiwa kita sehat. Selain itu, jadilah ayah yang empatikdan bukan ayah yang galak. Pada saat anak galau, jangan ragu untuk memeluknya karena pelukan dan sentuhan akan menyembuhkan luka hatinya.
Be focus.Fokus hanya pada keluarga, sehingga seisi rumah menjadi tenang.


Tulisan ini dicopas dari grup WA

Terima kasih kepada yang menulis, sangat menginspirasi & bermanfaat.
Judul diedit sedikit ya :)